Sabtu, 03 Agustus 2019

INFERTILITAS PRIMER



A. Infertilitas

https://res.cloudinary.com/dk0z4ums3/image/upload/v1520414103/attached_image/penyebab-infertilitas-wanita-yang-perlu-diketahui-alodokter.jpg 
     Infertilitas adalah kegagalan dari pasangan suami-istri untuk mengalami kehamilan setelah melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi selama satu tahun (Sarwono,497). Infertilitas (kemandulan) adalah ketidakmampuan atau penurunan kemampuan menghasilkan keturunan (Elizabeth, 693). Ketidaksuburan (infertil) adalah suatu kondisi dimana pasangan suami istri belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2-3 kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun (Djuwantono,2008,hal:1). Infertil merupakan masalah yang dihadapi oleh pasangan suami istri yang telah menikah selama minimal satu tahun, melakukan hubungan senggama teratur tanpa menggunakan kontrasepsi tetapi belum berhasil memperoleh kehamilan.
      Pasangan mandul (infertil) adalah pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta telah berhubungan seks selama satu tahun tetapi belum terjadi kehamilan. Menurut statistik kehamilan terjadi sekitar 80 pada tahun pertama, 75 pada tahun kedua, 50-60 pada tahun ketiga, pada tahun keempat turun menjadi sekitar 40-50 , sedangkan pada tahun kelima lebih kecil, antara 25-30. Infertilitas masih menjadi masalah sebagian pasangan suami istri, hal ini dikarenakan kemungkinan untuk mendapatkan seorang anak masih kecil.Di Indonesia masih langka sekali dokter yang berminat dalam ilmu infertilitas. Faktor kurangnya pengetahuan tentang kesuburan dan infertil juga menjadi faktor penyebab masih tingginya angka infertilitasnya. Selain itu, faktor-faktor seperti kesehatan lingkungan, gizi, dan status ekonomi juga menjadi faktor yang mempengaruhi
     Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia kedokteran. Namun, sampai saat ini ilmu kedokteran baru berhasil menolong kira-kira 50% pasangan infertilitas untuk memperoleh anak. Di masyarakat kadang infertilitas disalah artikan sebagai ketidakmampuan mutlak untuk memiliki anak atau “kemandulan” pada kenyataannya dibidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurang mampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.


      https://timesofoman.com/uploads/images/2017/08/19/718950.jpg
     Menurut catatan WHO, diketahui penyebab infertilitas pada wanita diantaranya adalah : faktor Tuba Fallopi (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 30% dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 26%. Hal ini berarti sebagian besar masalah infertilitas pada wanita disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.
B. Jenis Infertilitas
     Infertilitas masih menjadi masalah sebagian pasangan suami istri,hal ini dikarenakan kemungkinan untuk mendapatkan seorang anak masih kecil. Di Indonesia masih langka sekali dokter yang berminat dalam ilmu infertilitas. Faktor kurangnya pengetahuan tentang kesuburan dan infertil juga menjadi faktor penyebab masih tingginya angka infertilits. Selain itu, faktor-faktor seperti kesehatan lingkungan, gizi, dan status ekonomi juga menjadi faktor yang memengaruhi. Apabila banyaknya pasangan infertil di indonesia dapat diperitungkan dari banyaknya wanita yang pernah kawin dan mempunyai anak yang masih hidup, maka menurut sensus penduduk terdapat 12% baik didesa maupun dikota, atau kira-kira 3 juta pasangan infertil diseluruh Indonesia .
Secara medis infertilitas dibagi menjadi dua jenis,yaitu: 
Infertilitas primer, berarti pasangan susmi istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah satu tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun. Infertilitas dikatakan sebagai infertilitas primer jika sebelumnya pasangan suami istri belum pernah mengalami kehamilan. 


 https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/700x-/news/2018/07/2b210fe09d8134578ff74ce024c71cc1.jpg
Infertilitas sekunder, berarti pasangan suami istri telah atau pernah memili anak sebelumnya tapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah satu tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun. Dikatakan sebagai infertilitas sekunder jika pasangan suami istri gagal untuk memperoleh kehamilan setelah satu tahun pasca persalinan atau pasca abortus, tanpa menggunakan kontrasepsi apapun. 
https://lkpanel.motherandbaby.co.id/lkgallery/teaser/sad-parent-complaining-holding-pregnancy-test-sitting-bed_1150-5106_48_20190416161142.jpg


C. Sebab-sebab Infertilitas Pada Wanita
1. Gangguan ovulasi atau gangguan hormonal yang dapat berasal secara primer dari gangguan ovarium. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kelainan,bisa terjadi karena adanya tumor atau juga kelainan endokrin atau hormonal. Ketidakseimbangan hormon, misalnya pada keadaan kelenjar hormon-hormon yang tidak seimbang dapat mengganggu kesiapan uterus (rahim) dalam persiapan untuk menempel sel telur telah dibuahi.
https://cdn-cas.orami.co.id/parenting/images/ovulasi_artikel_hero.original.jpegquality-90.jpg 
2. Kelainan yang disebabkan oleh ketidakcocokan getah serviks (lendir mulut rahim) terhadap sperma. Bahkan lendir serviks ini bisa saja menjadi antibodi terhadap sperma.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXf_YPJim86M-to-Iu3xMKUI7YlDloa0xlltEd-H13186XBIUVjxD3tKRTYleiowc-NawTgjHBUlWn76hfCJX54TybPWT4QHlGKCQXmh73GiSCOPFc7VVOEQiuWSL3BDBlCykZH3zh8q8/s320/16_cervicalmucus.jpg 
3. Kelainan pada jalur transportasi (Tuba Falopi ).  Tersumbatnya saluran tuba falopi mungkin terjadi karena saluran ini pernah infeksi, aborsi tau pemasangan IUD (Alat kontrasepsi) yang tidak steril sehingga jaringan parut dan mengganggu fungsinya.


https://ingincepathamilblog.files.wordpress.com/2016/03/penyebab-tuba-falopi-tersumbat-sumbatan-di-tuba.png?w=640 
4. Selaput gangguan, atau kerusakan pada selaput yang melapisi permukaan dinding dalam rongga perut yang dapat memengaruhi kondisi organ reproduksi jika terjadi infeksi , dapat menyebabkan rasa nyeri yang mengganggu. 


Gangguan Organ Reproduksi
  •      Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina akan membunuh sperma perkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke vagina.
https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&ved=2ahUKEwij7cTC8ubjAhW07nMBHQNCBjwQjRx6BAgBEAU&url=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fmajakanikanzaori%2Fposts%2Finfeksi-vagina-bikin-sulit-hamilmemiliki-anak-atau-memiliki-keturunan-merupakan-%2F1852379765010091%2F&psig=AOvVaw3OfQJoICorIQuGe0RABZB4&ust=1564928342055314
  •   Kelainan pada serviks akibat defisiensi hormon estrogen  yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. Apabila mukus sedikit di serviks , perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. Selain itu, bekas operasi pada serviks yang menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk rahim
  •   Kelainan pada uterus, misanya diakibatkan oleh mal formasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang.
https://cdn2.momjunction.com/wp-content/uploads/2016/04/Uterine-Abnormalities-During-Pregnancy2.jpg
  •   Kelainan tuba falopi akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopi dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu.


Gangguan Ovulasi 
http://www.hamilmaksimal.com/wp-content/uploads/2016/06/ovulasi.jpg
Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. Hambatan ini dapat terjadi karena adanya tumor kranial, stres , dan pengguna obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hipotalamus dan hipofisis. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormon ini. Maka folikel megalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gangguan ovulasi.
Kegagalan Implantasi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEit5_7mEe1cFf_SASnnRLY8Czivrcid7ZgP0RznTIrrb64rOdGf7BY-ZaPw_0EjVIs2HqxWaBoh5_LxP2QZBuRsFmdFT5q26nGq_2YyZ_xH7d5Ir7e-CxVMrVOVW4vK_VGC14wcqiqC2dt2/s1600/Gambaran-Klinis-Pada-Abortus-Imminen.gif
Wanita dengan kadar progesteon yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. Setelah terjadi pembuahan , proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Akibatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilan abortus.
Faktor Imunologis
https://cdns.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2014/12/22/8638/cara-tubuh-memproduksi-imun-alami-141222h.jpg
Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing . reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada ibu hamil.


Lingkungan
https://i2.wp.com/adira.co.id/wp-content/uploads/2017/08/WEB-kota-polusi-780x520_c.jpg?ssl=1
Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas anastesi, zat kimia, dan pestisida dapat meneyebabkan toksik pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan memengaruhi kesuburan.


D. Faktor-faktor infertilitas yang sering ditemukan
   Faktor-faktor yang memengaruhi infertilitas pasangan sangat tergantung pada keadaan local, populasi dan di investigasi dan prosedur rujukan.
1.     Faktor koitus pria
    Riwayat dari pasangan pria harus mencakup setiap kehamilan yang sebenar-benarnya, setiap riwayat infeksi saluran genital, misalnya prostates, pembedahan atau cedera pada genital pria atau daerah inguinal, dan setiap paparan terhadap timbal, cadmium, radiasi atau obat kematerapeutik. 
2.    Faktor Ovulasi
   Sebagian besar wanita dengan haid teratur (setiap 22-35 hari) mengalami ovulasi terutama kalau mereka mengalami miolimina prahaid (misalnya perubahan payudara, kembung dan perubahan suasana hati).
3.    Faktor serviks
   Selama beberapa hari sebelum ovulasi, serviks menghasilkan lender encer yang banyak yang bereksudasi keluar dari serviks untuk berkontak dengan ejakulat semen. Untuk menilai kualitasnya, pasien harus diperiksa selama fase menjelang pra ovulasi (hari ke-12 sampai 14 dari siklus 28 hari).
 
4.    Faktor tuba-rahim
    Penyumbatan tuba dapat terjadi pada tiga lokasi: akhir fimbriae, pertengahan segmen, atau pada isthmus kornu. Penyumbatan fimbriae sejauh ini adalah yang banyak ditemukan. Salpingitis yang sebelumnya dan penggunaan spiral adalah penyebab yang lazim, meskipun sekitar separuhnya tidak berkaitan dengan riwayat semacam itu. Penyumbatan pertengahan segmen hampir selalu diakibatkan oleh sterilisasi tuba. Penyumbatan semacam itu, bila tidak ada riwayat ini menunjukkan tuberculosis. Penyumbatan isthmus kornu dapat bersifat bawaan atau akibat endometriosis, edenomiosis tuba atau infeksi sebelumnya. Pada 90% kasus, penyumbatan terletak pada isthmus dekat tanduk (kornu) atau dapat melibatkan bagian dangkal dari lumen tuba didalam dinding organ.
 
5.    Faktor peritoneum
http://www.radiologyassistant.nl/data/bin/a5097979750a1d_overzicht.jpg
   Rongga abdominal atau rongga perut dikelilingi oleh membran pelindung yang disebut peritonium. Laparoskopi dapat mengenali patologi yang tak disangka-sangka sebelumnya pada 30 sampai 50% wanita dengan infertilitas yang tak dapat diterangkan. Endometriosis adalah penemuan yang paling lazim. Perlekatan perianeksa dapat ditemukan, yang dapat menjauhkan fimbriae dari permukaan ovarium atau menjebak oosit yang dilepaskan. 
 E. Penatalaksanaan infertilitas
  Wanita :
  1. Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu yang tepat untuk koital.
  2. Pemberian terapi obat, seperti :
  • Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus, peningkatan kadar prolactin, pemberian tsh.
  •  Terapi penggantian hormone
  • Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal
  • Penggunaan anti-biotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat :
  1. GIFT (gemete intrafallopian  transfer)
  2. Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas
  3. Bedak plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate
  4. Pengangkatan tumor atau fibroid
  5. Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi
G. Pencegahan Infertilitas
  1. Berbagai macam infeksi diketahui menyebabkan infrtilitas terutama infeksi prostat, buah zakar, maupun saluran sperma. Karena itu, setiap infeksi didaerah tersebut harus ditangani serius. (Steven RB, 1985).
  2. Beberapa zat padat meracuni sperma. Banyak penelitiaan menunjukkan pengaruh buruk rokok terhadap jumlah dan kualitas sperma (Steven RB, 1985)
  3. Alkohol dalam jumlah banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar hormon testosteron tentunya akan mengganggu pertumbahan sperma (Steven RB,1985).
  4. Berperilaku sehat (Dewhurst,1997).


H. Jalan Keluarnya
https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700x465/photo/2018/09/25/1671569369.jpg
     Kemudian, apa yang bisa dilakukan kalau terjadi keadaan di atas? Cara mengatasinya sangat banyak, tergantung pada penyebabnya. Diperlukan pemeriksaan yang teliti untuk pasangan yang ingin mempunyai anak. Sekarang ini banyak sekali klinik yang mengkhususkan diri untuk membantu pasangan yang ingin mempunyai anak. Mereka dapat membantu dari konsultasi sampai melakukan proses bayi tabung.     Bayi tabung adalah proses pembuahan yang dibantu dari luar. Secara singkat, prosesnya bermulai dengan megambil sperma yang baik dari pihak pria, dan mengambil sel telur yang baik dari pihak wanita. Setelah itu, sel sperma dan sel telur tersebut dipertemukan di luar tubuh. Setelah terjadi proses pembuahan, sel telur yang sudah dibuahi tadi dimasukkan kembali ke dalam rahim sang ibu untuk proses kehamilan selanjutnya.    Pemeriksaan yang utama adalah pemeriksaan ovulasi, pemeriksaan sperma, pemeriksaan lendir serviks, pemeriksaan tuba, dan pemeriksaan endometrium. Adanya ovulasi, sperma yang baik, lendir serviks yang normal, tuba yang paten dan endometrium yang normal merupakan syarat mutlak untuk memungkinkan kehamilan.
I. Pemeriksaan Dasar Infertilitas
Pemeriksaan dasar merupakan hal yang sangat penting dalam tata laksana infertilitas. Dengan melakukan pemeriksaan dasar yang baik dan lengkap, maka terapi dapat diberikan dengan cepat dan tepat, sehingga penderita infertilitas dapat terhindar dari keterlambatan tata laksana infertilitas yang dapat memperburuk prognosis dari pasangan suami istri tersebut.
1. Anamnesis
Pada awal pertemuan,penting sekali untuk memperoleh data apakah pasangan suami istri atau salah satunya memiliki kebiasaan merokok atau minum,minuman beralkhohol. Perlu juga diketahui apakah pasutri atau salah satunya menjalani terapi khuhus seperti antihipertensi, kortikosteroid, dan sitostatistika.
Siklus haid merupakan variabel yang sangat penting. Dapat dikatakan siklus haid normal jika berada dalam kisaran antara 21-35 hari. Sebagian besar perempuan dengan siklus haid yang normal akan menunjukkan siklus haid yang berevolusi. Untuk mendapatkan rerata siklus haid perlu diperoleh informasi apakah terdapat keluhan nyeri haid setiap bulannya dan perlu dikaitkan dengan adanya penurunan aktivitas fisik saat haid akibat atau terdapat penggunaan obat penghilang nyeri saat haid terjadi.   
Perlu dilakukan anamnesis terkait dengan frekuensi senggama yang dilakukan selama ini. Akibat sulitnya menentukan saat ovulasi secara tepat, maka dianjurkan bagi pasutri untuk melakukan secara teratur dengan frekuensi 2-3 kali per minggu. Upaya untuk mendeteksi adanya ovulasi seperti pengukuran suhu basal badan dan penilaian kadar LH didalam urin seringkali sulit untuk dilakukan dan sulit untuk diyakini ketepatannya, sehingga hal ini sebaiknya dihindari saja.

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan pada pasutri dengan masalah infertilitas adalah pengukuran tinggi badan , penilaian berat badan, dan pengukuran lingkar pinggang , penentuan indeks massa tubuh perlu dilakukan dengan menggunakan formula berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m²).Perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25kg/m² termasuk kedalam kelompok kriteria berat badan lebih. Hal ini memiliki kaitan erat dengan sindrom metabolic. IMT yang kurang dari 19kg/m² sering kali dikaitkan dengan penampilan pasien yang terlalu kurus dan perlu dipikirkan adanya penyakit kronis seperti infeksi tuberkulosis  (TBC), kanker, atau masalah kesehatan jiwa seperti anoreksia nervosa atau bulimia nervosa.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan dasar yang dianjurkan untuk mendeteksi atau mengonfirmasi adanya ovulasi dalam sebuah siklus haid adalah penilaian kadar progesteron pada fase luteal madia, yaitu kurang lebih 7 hari sebelum perkiraan datangnya haid. Adanya ovulasi dapat ditentukan jika kadar progesteron fase luteal media dijumpai lebih dari 9,4 mg/ml (30 nmol/l). 
Penilaian kadar progesteron pada fase luteal madia menjadi tidak memiliki haid yang jarang (lebih dari 35 hari), atau siklus haid yang terlalu sering (kurang dari 21 hari).      
Pemeriksaan kadar thyroid stimulating hormone (TSH) dan prolactin hanya dilakukan jika terdapat indikasi berupa siklus yang tidak berovulasi, terdapat keluhan galaktore atau terdapat kelainan fisik atau gejala klinik yang sesuai dengan kelainan pada kelenjar tiroid. 
Pemeriksaan kadar luteinizing hormone (LH) dan follicles stimulating hormone (FSH) dilakukan pada fase proliferasi awal (3-5 hari) terutama jika dipertimbangkan terdapat peningkatan nisbah LH/FSH pada kasus sindrom ovarium polikistik (SPOK).
Pemeriksaan uji pascasanggama atau postcoital test (PCT) merupakan metode pemeriksaan yang bertujuan untuk menilai interaksi antara sperma dan lender serviks. Metode ini sudah tidak dianjurkan untuk digunakan karena memberikan hasil yang sulit untuk dipercaya. 
4. Pemeriksaan Analisis Sperma
Pemeriksaan analisis sperma sangat penting dilakukan pada awal kunjungan pasutri dengan masalah infertilitas , karena dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor lelaki turut memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap kejadian infertilitas.
Beberapa syarat yang harus diperhatikan agar menjamin hasil analisi s sperma yang baik adalah sebagai berikut :
  1. Lakukan abstinesia (pantang sanggama) selama 2-3 hari .
  2. Keluarkan sperma dengan cara masturbasi dan hindari dengan cara sanggama terputus.
  3. Hindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi.
  4. Hindari penggunaan kondom untuk menampung sperma.
  5. Gunakan tabung dengan mulut yang lebar sebagai tempat penampungan sperma.
  6. Tabung sperma harus dilengkapi dengan nama jelas, tanggal, dan waktu pengumpulan sperma, metode pengeluaran sperma yang dilakukan (masturbasi atau sanggama terputus)
  7. Kirimkan sampel secepat mungkin ke laboratorium sperma.
  8. Hindari paparan temperature yang terlampaui tinggi (>38C) atau lebih rendah (<15°C) atau menempelkannya ke tubuh sehingga sesuai dengan suhu tubuh.


DAFTAR PUSTAKA
Irianto, Koes. 2015. Kesehatan Reproduksi. Bandung : Alfabeta




Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta : Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo